Kabar Nasional

kabarnasional/cate1

Kabar Internasional

kabarinternasional/cate2

Suara Pemuda

suarapemuda/cate3

Khazanah

khazanah/cate4

Puisi Kritis

puisikritis/cate5

Videos

videos/cate6

Recent post

Pelopor Buntung

Tidak ada komentar



Oleh:
Muhammad Amin

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Apa resolusimu di tahun depan? Begitulah kira-kira pertanyaan trainer motivasi kepada audiens. Lulus sekolah, membeli rumah atau mobil baru. Ada yang ingin menikah, menyelesaikan S2 nya. Ada yang ingin menyambung silaturrahim dengan kerabat yang sekian lama terputus karena urusan warisan. Ada yang ingin mengkhatamkan Al-quran. Ada pula yang ingin memulai bisnis baru, dan macem-macem.

Bisnis yang dijadikan target adalah bisnis yang tumbuh dan sustainable, bukan yang stagnan, mundur atau malah gulung tikar. Bayangkan profit yang mengalir tanpa henti dan memenuhi pundi-pundi kita, amazing bro. Itulah sebabnya kelas-kelas marketing selalu penuh sesak, berapapun investasinya. Untuk apa? Pasti untuk mendapat keuntungan dan kebaikan yang sustainable.

Tak dapat dipungkiri bahwa hidup menjadi lebih baik adalah keinginan semua orang dan malah menjadi doa sapujagat kita: Rabbanaa atina fid dun ya hasanah wafil akhirati hasanah. Waqinaa adzabannar: wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kehidupan di dunia yang baik, di akhirat pun baik, dan jauhkan kami dari siksa api neraka. Begitulah kira-kira maknanya. Produk istimewa, marketing handal, membangun jaringan penjualan yang sip adalah beberapa ikhtiar untuk mendapat keuntungan yang “tiada terputus”. Ini untuk kebaikan di dunia.

Bagaimana untuk kebaikan di akhirat? Iman dan amal shaleh, pastinya. Adakah amalan yang pahalanya tiada terputus? Hmm, alangkah kerennya jika kita sudah dipanggil Allah sedangkan pahala masih tetap mengalir. Kanjeng Nabi menjelaskan jika manusia telah wafat maka akan terputuslah semua amalnya kecuali 3 hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanafaat, dan anak soleh yang mendoakan. Dijamin dah jika 3 ini kita miliki, maka pundi-pundi kebaikan kita di akhirat akan selalu bertambah bi idznillah. Jika kita ikhlas menyampaikan ilmu yang menginspirasi kebaikan kepada orang lain, kemudian dia menjalani kebaikan tersebut, wow kebaikan mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahalaorangtersebut. Keren kan?

Jadi kepo nih, apakah berlaku yang sebaliknya jika menginspirasi dan mendukung keburukan atau kemaksiatan? Jangan-jangan dosa dan keburukannya akan mengalir tanpa henti pula kepada kita. Bagaimana lagi jika kita ikut-ikutan ngedukung pemimpin yang dzalim yang tak mau menjalani syariah Islam, menipu rakyat, mengingkari janji-janjinya, menyengsarakan rakyat dengan menaikkan harga BBM dan listrik, mengkriminalkan para ulama, dan menistakan syariah Islam? Lalu bagaimana jika pemimpin seperti itu terpilih dan menjalankan kedzalimannya kepada rakyat? Hii ngeri bro. Bukannya untung yang kita dapat, tetapi malah buntung.

Rasulullah menjelaskan bahwa “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikit pun dosa mereka.” (HR Muslim).

Maka apa resolusimu tahun ini? Ngeri aja kalau harus buntung Bro.

Pelajaran Penting Dalam Penyakit Sistemic Lupus Erythemetosus

Tidak ada komentar



Oleh:
Muhammad Amin

BERGERAKNEWS | Kabar Nasional - Allah SWT memberikan sebuah mekanisme pertahanan unik dalam diri manusia. Kita menyebutnya sebagai sistem imun. Jika ada benda asing dan dianggap membahayakan tubuh, maka sistem imun akan bekerja menangkap, “membunuhnya”, dan memutilasinya. Sistem imun memperlakukannya sebagai musuh besar yang harus dimusnahkan. Selanjutnya sistem imun akan menjadikannya sebagai memori agar dapat menangkalnya dengan lebih cepat pada saat ada lagi benda asing tersebut.

Kadang sistem imun bekerja “kelewat protektip” terhadap tubuh hingga terjadi kesalahan di dalam mengidentifikasi apakah sebuah benda harus dianggap sebagai musuh besar. Akibatnya adalah sel-sel dalam tubuh sendiri diserang. Penyerangan sel tubuh sendiri ini cukup besar akibatnya. Penderitanya dapat menderita mulai dari timbulnya ruam kemerahan di kulit wajah, gangguan persendian, gangguan ginjal, hingga ke jantung sebagaimana pada penderita Sistemic Lupus Erythematosus (SLE).

Allah memberi peringatan kepada kita dengan semua peristiwa dalam tubuh ini: “Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 21).

Bagaimana jika salah identifikasi ini terjadi pada kehidupan di luar tubuh manusia? Teman disalah identifikasi sebagai musuh dan sebaliknya. Seorang yang harusnya ditemani, dibela, dan didengar nasihatnya justru diperlakukan sebaliknya: dijauhi, difitnah, dan didzalimi. Orang yang membawa keburukan bagi dirinya malah ditemani, dibela, dan didengar nasihatnya.

Kurang baik apa pihak yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran? Allah sendiri yang menyebutnya sebagai orang yang beruntung.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imron 104).

Di ayat lainnya Allah SWT menyebutnya sebagai orang yang ucapannya paling baik.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33).

Allah memerintahkan mengikuti para utusan yang tidak meminta upah.
“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata, “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Yasin: 20-21).

Dan Allah SWT menjadikan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran sebagai karakter orang yang tidak merugi.
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr [103]:1 – 3).

Adalah HTI datang dengan membawa kebenaran. HTI mencita-citakan sebuah kehidupan Islam yang rahmatan lil alamin, tidak ada riba dan kezaliman. HTI menasihati penguasa untuk menjalani kebenaran Islam di dalam mengatur urusan rakyatnya. HTI menasihatkan kesabaran di dalam berjuang dengan pemikiran dan tanpa kekerasan. HTI tidak meminta upah. Akan tetapi bagaimanakah sikap penguasa kepada HTI? Bagaimanakah sikap sebagian ummat kepada HTI? Jika HTI mengajak agar penguasa dan ummat menjauhi agama, memisahkan peraturan agama dari urusan politik, menistakan para ulama dan aktivis, menyengsarakan ummat dengan menaikkan berbagai harga kebutuhan pokok, janji-janji manis dan tidak ditepati, barangkali layak diperlakukan sebagai musuh, dijauhi, dan dibubarkan.

Maka seharusnya cukuplah “salah identifikasi” dalam kasus SLE di dalam tubuh kita menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang dalam kehidupan kita. Janganlah bersikap destruktip kepada sahabat yang membawa kebenaran. Atau jangan-jangan Anda memang memposisikan sebagai musuh kebenaran dan musuh Islam?

Pemilu, Karakter Sistem Eksploitatif dan Kenyataan

Tidak ada komentar



Oleh:
Hadi Sasongko (Analis di Political Grassroots)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - euforia proses demokrasi (Pemilu ), perubahan kembali digantungkan pada proses demokrasi. Diketahui sebelumnya terdapat 16 parpol nasional dan 4 parpol lokal dalam penetapan peserta Pemilu 2019 sebelumnya. Semua partai politik peserta Pemilu 2019 menjanjikan perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Janji itu tergambar pada kampanye mereka.

Rakyat disuguhi berbagai celotehan janji dan mimpi tentang perubahan dengan berbagai macam redaksi dan visualisasi. Apakah benar Pemilu yang kesepuluh kalinya ini akan benar-benar bisa mewujudkan perubahan? Benarkah demokrasi (dengan Pemilunya) bisa menjadi jalan perubahan?

Sudut Pandang

Jika yang dimaksudkan adalah perubahan sekadar perubahan, jelas demokrasi menjanjikan itu. Bahkan dalam demokrasi bisa dikatakan tidak ada sesuatu yang tetap. Hal itu karena sistem dan aturan penentuannya diserahkan pada selera akal manusia, sementara selera akal selalu berubah dari waktu ke waktu. Sesuatu yang dianggap baik hari ini bisa saja besok berubah menjadi sesuatu yang dinilai buruk. Sesuatu yang dinilai manfaat hari ini ke depan bisa dinilai sebagai madarat (bahaya). Hal itu karena akal senantiasa dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kepentingan (ego). Artinya, perubahan yang ditawarkan oleh demokrasi itu akan dipengaruhi bahkan ditentukan oleh kepentingan.

dalam konteks ini kepentingan pihak-pihak yang mendominasi proses demokrasilah yang akan menentukan perubahan yang terjadi. Di sinilah masalahnya. Melalui demokrasi perwakilan, suara ratusan ribu rakyat diasumsikan terwakili oleh satu orang wakil. Tentu saja ini adalah satu hal yang sangat sulit kalau tidak bisa dikatakan mustahil. Pada faktanya suara wakil itu lebih mencerminkan suara dan kepentingannya sendiri. Bahkan fakta menunjukkan lebih sering justru kepentingan pihak lainlah yang lebih menonjol, selain suara dan kepentingan wakil rakyat itu sendiri dan kelompoknya. Hal itu karena demokrasi itu dalam prosesnya membutuhkan biaya mahal.

Demokrasi dan Pemodal

di sinilah peran para pemodal yang berinvestasi melalui proses demokrasi menjadi sangat menonjol dan menentukan. Ironisnya semua itu selalu diatasnamakan suara dan kepentingan rakyat karena rakyatlah yang memilih orang-orang yang mewakili mereka. Dengan demikian kepentingan para pemodal demokrasi itulah yang menjadi penentu arah perubahan yang terjadi. Jadi demokrasi memang menjadikan perubahan tetapi bukan perubahan yang memihak kepentingan rakyat, tetapi memihak kepentingan aktor-aktor demokrasi dan para pemodal mereka.

Lebih dari itu, seandainya dengan demokrasi itu tercipta kondisi yang baik yang sepenuhnya memihak kepentingan rakyat –meski ini selalu saja masih menggantung jadi mimpi- demokrasi tidak bisa menjamin kondisi baik itu bisa terus berlangsung. Justru demokrasi menjamin kondisi yang baik itu pasti berubah yang belum tentu menjadi lebih baik. Hal itu karena wakil rakyat dan pemimpin yang baik yang terpilih melalui proses demokrasi itu harus dipilih ulang.

Pemimpin yang baik itu dibatasi jangka waktunya dan harus diganti ketika sudah habis. Bahkan setelah jangka waktu tertentu ia tidak boleh dipilih kembali. Tidak ada jaminan tabiat pilihan masyarakat dalam tatanan sekularistik-Kapitalis akan bisa menjadi pemimpin yang penuhi hak-hak asasi rakyatnya. Karakter sistemnya eksploitatif dan hanya memihak kelompok korporasi pemegang modal besar yang selalu menjadi pilar tegaknya sistem ini. Hal itu menunjukkan bahwa demokrasi hakikatnya memang bukan sistem yang baik, dan bukan sistem yang menawarkan perubahan lebih baik secara hakiki.

Hal itu wajar karena demokrasi adalah sistem buatan manusia yang tentu saja sarat dengan kelemahan dan kekurangan serta tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan. Lebih dari itu, demokrasi sebagai sebuah sistem bertentangan dengan Islam, karena inti dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Makna praktis dari kedaulatan ada hak membuat hukum. Itu artinya demokrasi menjadikan rakyat –riilnya adalah wakil-wakil rakyat- sebagai pembuat hukum. Sebaliknya, dalam Islam membuat dan menentukan hukum itu adalah hak Allah SWT. Artinya dalam Islam hanya syara’ yang berhak membuat hukum.

Sistem Islam Menawarkan…

Allah telah menjelaskan bahwa hanya Islamlah sistem yang bisa menawarkan kehidupan kepada umat manusia. Hanya Islamlah yang bisa membawa manusia menuju cahaya, sementara sistem selain Islam justru mengeluarkan manusia dari cahaya menuju kegelapan. Allah SWT menegaskan hal itu di dalam firman-Nya:
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) menuju cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan (kekafiran). (QS. al-Baqarah [2]: 257)

Itu artinya hanya sistem Islamlah yang bisa menjamin terwujudnya perubahan dan kehidupan yang baik yang diridhai oleh Alllah SWT. Sistem Islam datang dari Pencipta manusia yang paling mengetahui hakikat manusia, apa yang baik dan yang tidak, yang bermanfaat dan yang madarat bagi manusia.

dengan demikian, jalan perubahan itu adalah dengan menerapkan Islam sebagai sebuah sistem secara menyeluruh. Perjuangan mewujudkan perubahan hakiki itu tentu saja adalah perjuangan mewujudkan penerapan Islam secara menyeluruh. dalam konteks ini, sebagian pihak meyakini hal itu bisa dilakukan melalui demokrasi. Jika yang dituju adalah penerapan Islam secara parsial, maka hal itu bisa diwujudkan melalui demokrasi, seperti penerapan hukum waris Islam, pernikahan Islam, ibadah dan hukum-hukum yang bersifat personal lainnya.

Hanya saja jika yang dituju adalah perubahan secara menyeluruh dan penerapan Islam secara menyeluruh rasanya mustahil bisa diwujudkan melalui demokrasi. Hal itu karena sebagai sebuah sistem, demokrasi yang dibangun di atas akidah sekularisme tentu tidak akan mentoleransi masuknya agama (Islam) dalam pengaturan hidup bermasyarakat. Secara faktual, kasus FIS yang memenangi Pemilu demokratis di Aljazair dan meraih suara mayoritas toh dianulir oleh militer yang sekular atas dukungan Perancis dan didiamkan (diamini) oleh semua negara dan para pejuang demokrasi. Begitu juga kasus partai Refah di Turki dan Hamas di Palestina mempertegas bahwa perjuangan penerapan Islam tidak mungkin dilakukan melalui demokrasi. Perubahan hakiki itu hanya bisa diwujudkan dengan penerapan Islam secara menyeluruh.

Jalan Perubahan

Sekali lagi demokrasi bukan jalan mewujudkan perubahan yang hakiki. Menggantungkan harapan terjadinya perubahan hakiki kepada demokrasi hanya akan mendatangkan kekecewaan. Fakta yang terjadi di negeri-negeri Islam selama ini sudah menegaskan hal itu. Karena itu, tidak sepantasnya kita masih menaruh harapan pada demokrasi.

Jalan untuk mewujudkan perubahan hakiki, yaitu untuk mewujudkan penerapan Islam secara menyeluruh, hanya bisa dilakukan melalui thariqah (metode) dakwah Rasulullah saw. Keberhasilan Rasul bersama para sahabat mewujudkan perubahan hakiki dengan menerapkan Islam secara menyeluruh yang berawal dari Madinah lalu menyebarkan perubahan ke negeri-negeri lainnya cukuplah menjadi bukti. Allah SWT menegaskan hal itu dalam firman-Nya:

Sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa. (QS. al-An’âm [6]: 153)

Angka 5,17 Persen, Atara Klaim Tuan Presiden dengan Fakta

Tidak ada komentar


Oleh : Yuli Sarwanto (Direktur FAKTA)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi – “Ya patut kita syukuri Alhamdulillah, 5,17 (persen) itu sebuah angka yang baik kalau dibandingkan negara-negara lain. Bandingkan dengan negara-negara lain, yang G20," ujar Jokowi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (7/2) republika.co.id. Jokowi pun menegaskan, peningkatan pertumbuhan ekonomi itu didorong oleh dua hal, yakni ekspor yang semakin meningkat dan pengurangan impor.

Pemerintah memaparkan peningkatan pertumbuhan ekonomi pada 2018. Selain itu, dipaparkan penggunaan barang substitusi impor yang diproduksi di dalam negeri juga dinilainya turut mendorong peningkatan angka pertumbuhan ekonomi.

Beda klaim beda fakta. Indonesia masih terkenal sebagai pengimpor produk teknologi asing. Mayoritas pabrik-pabrik di negeri ini, sejatinya, hanya memproduksi barang dengan merek atau teknologi yang dilisensi dari induknya di luar negeri. Meski alih teknologi telah dijalankan, dan kita mampu membuat sendiri produk tersebut, tetap saja aturan-aturan paten dan rahasia dagang akan membentengi, sehingga kita hanya boleh membuat produk itu sesuai aturan lisensi pemilik paten.

Secara struktural sejak Indonesai tunduk dan patuh pada ketentuan-ketentuan perekonomian global, secara bertahap sumberdaya ekonomi, produksi dan jejaring distribusi perekonomian beralih ke tangan swasta domestik dan asing. Nixon Shock pada Juli-Agustus 1971 bermula dari kebijakan Saudi Arabia yang menggunakan pasokan minyak ke pasar dunia sebagai senjata sehingga harga minyak naik. Akibatnya perekonomian AS menyusut 27% dari 35% terhadap volume ekonomi global dan dolar AS terdepresiasi.

Namun hal ini tidak membuat orang-orang kepercayaan Washington di Jakarta yang menampuk kekuasaan ekonomi dan moneter, mengambilnya sebagai pelajaran bahwa model ekonomi Barat adalah rapuh (fragile). Dalam bahasa yang lain, kebijakan Bretton Woods yang lahir di AS pada 1944 telah gagal. Artinya integritas sistem ekonomi terbuka yang dibangun Bank Dunia, IMF dan General Agreement Trade and Traiff (GATT) –sekarang WTO— tidak utuh dan tidak tangguh. Penyebabnya, antara lain, perilaku rakusnya pemodal, tidak jujurnya pasar, dan bangunan persepsi manusia merupakan basis rujukan transaksi pada sektor riil dan sektor keuangan.

Industri besar yang ada sering diorientasikan untuk mengeruk kekayaan alam (migas, tambang, hutan, dan laut) atau menguasai sektor publik (air minum, listrik, telekomunikasi, jalan tol) dengan kontrak konsesi, yang akhir-akhir ini beralih juga ke tangan asing.

Sementara itu, bersama-sama dengan pariwisata, ratusan ribu TKI juga menjadi andalan devisa, sekalipun di luar negeri sering terzalimi. Di sisi lain, beberapa ribu tenaga ahli asing yang bekerja di Indonesia “menguras” kantong kita lebih banyak dari sekian juta pegawai negeri, termasuk dosen-dosen dan peneliti yang notabene banyak yang merupakan lulusan sekolah di luar negeri. Belum lagi dengan utang yang luar biasa besar.

Selain persoalan ekonomi yang terkait dengan luar negeri, sistem perbankan kita juga harus memiliki kualifikasi “internationaly compatible” (sesuai “standar internasional”). Hal itu berarti bahwa perbankan kita harus mengakui sistem riba (sekalipun sistem syariah “ditolerir”, tapi tidak menjadi satu-satunya). Negeri ini juga harus menjalankan sistem moneter kurs mengambang untuk valas, selain harus membuka pasar modal yang sangat memungkinkan investor asing leluasa memborong saham perusahaan-perusahaan yang go publik.

di sisi lain, sistem ekonomi yang ada membuat banyak industri yang semula dinilai strategis, bahkan untuk keperluan militer di saat perang, justru dilego untuk menutup defisit APBN akibat krisis perbankan. Masih segar dalam ingatan kita tentang penjualan Indosat ke STT Singapore, atau sekarang yang masih dalam wacana adalah penjualan PT Dirgantara Indonesia. Hasilnya, strategi ekonomi yang ada selama ini belum pernah berhasil menjadikan kita sebagai bangsa yang benar-benar mandiri.

Pembangunan kita gagal menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bahkan, tidak berhasil membangkitkan kemampuan teknologi yang mendukung produktivitas industri. Selain itu, teknologi yang telah kita kuasai ternyata sulit menjadi andalan perindustrian kita sendiri. [fk]

Yuk, Cerdas Ber-medsos

Tidak ada komentar



Oleh : Suhari Rofaul Haq, S.Pd. (praktisi pendidikan)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi – Saat ini kita hidup pada dunia digital yang ditandai  dengan mudahnya mendapatkan aneka informasi. Dengan media social , apa yang terjadi di belahan dunia nun jauh disana bisa kita saksikan seketika.  Berbagai macam ilmu pengetahuan,nasehat keagamaan hingga hiburan tinggal pilih , bahkan ruang privasi individu dengan mudah bisa  kita jumpai. Apa yang seharusnya menjadi rahasia seseorang semisal putus cinta ,namun  bisa  menjadi konsumsi public dengan cepat dan gratis.  Pokoknya info apa saja  yang kita mau  semua siap saji dengan cepat. Mobile phone  sebagai   sarana  zaman digital menjadi saksinya. Dan berdasarkan survey dari wearesocial, jumlah pengguna mobile phone di Indonesia mencapai 177,9 juta. Dari jumlah tersebut, 132,7 juta orang diantaranya menggunakan internet dan 120 juta aktif menggunakan media sosial. https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2018/08/06/gamer-indonesia-diprediksi-capai-34-juta-orang-428379

Bagi manusia saat ini, lebih lebih generasi milenial,Sosmed (social media) merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Hampa dan seolah ada yang hilang rasanya jika sehari saja tidak bersosmed-ria.Indikasi itu sangat terasa sekali manakala kita sedang bepergian dan tanpa sengaja alat komunikasi tertinggal.Ketidak-nyamanan akibat berpisah dengan mobile phone lebih menyiksa diri  dibanding jika harus berpisah dengan dompet atau kitab suci. Disudut pojok tempat ibadahpun kitab suci sering kalah bersaing dengan mobile phone. Hidup dizaman digital begini,  generasi milenial seolah berdosa jika harus berpisah meninggalkanya.Bila perlu makan,tidur,hingga ke kamar kecilpun gadget  tersebut akan menjadi teman setia dalam bersosmed-ria. Ya , sebagian besar hidup seolah ditakdirkan untuk bersosmed saja.

Sebagai orang tua yang bertanggung jawab akan kelangsungan generasi melenial,maka  wajib bijak dalam menyikapi kondisi demikian. Memang kita akui banyak manfaat yang bisa diambil dari hasil revolusi industri ini. Namun tanpa proteksi yang tepat,  bahaya yang  ditimbulkan dari sosmed tidak bisa di abaikan begitu saja. Kita harus memiliki kesadaran penuh akan apa yang sedang terjadi. Dengan kesadaran tersebut diharapkan bisa mengambil keputusan yang tepat untuk kelangsungan dan kesuksesan generasi yang ada. Sosmed harus diberdayakan untuk hal hal positip perkembangan anak, juga untuk membantu memudahkan dalam menjalani hidup. Kebalikannya,jangan sampai terjadi sosmed menjadi sarana perusak awal bencana anak manusia. Sungguh sangat disayangkan sekali jika itu terjadi. Betapa besar kerugian yang harus ditanggung manusia.

Bahaya yang sering terjadi akibat menggunakan sosmed berlebihan bisa berupa kehilangan kendali diri karena begitu asyiknya bermain berjam-jam hingga emosi larut dengan situasi yang ada. Jati diripun tidak jarang  bisa hilang karena dunia maya bisa merubah persepsi seseorang hingga tanpa disadari jadi dirinya telah berubah, jika perubahan positip tidak masalah namun jika negatip yang menjadi perubahanya,maka petaka telah dimulai. Privasi seseorang juga menjadi taruhan jika terlalu lama dalam bersosmed. Awalnya tidak terasa namun setelah asyik terbawa  suasana,maka apa yang seharusnya dirahasiakan akan dibuka  untuk umum dan menjadi  berita liar  yang sulit dikendalikan, duniapun tahu apa yang menjadi rahasia seseorang. Disamping itu harta,waktu,tenaga,pikiran juga akan banyak hilang tersedot pada hal-hal yang kurang bermanfaat jika terlalu larut dalam social media. Bukan tidak mungkin gara-gara media sosial seseorang bisa jadi stalker,yakni selalu kepo tentang kehidupan seseorang melalui sosmed. Akibat lanjutanya adalah kehilangan rasa percaya diri karena sering melihat orang yang cantik ,ganteng,kaya,mempesona dan lainya  di media sosial.

Yang sudah bisa dipastikan dari kerugian dalam bersosmed berlebihan adalah hilangnya waktu .Banyak waktu yang akan terbuang sia-sia sehingga hidup ini tidak produktif lagi, padahal waktu bagi manusia adalah modal yang  sangat berarti sekali . Hasan Al Bashri mengatakan,
ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[Hilyatul Awliya’, 2/148]. Waktu yang habis akibat untuk bersosmed setiap saat adalah kesia-siaan dan kerugian yang tidak bisa dihitung,bahkan lebih baik mati menurut Ibnul Qoyyim,  “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan  atau kesia-siaan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.”[, Al Jawabul Kafi,109].

Tugas para orang tua memang sangat berat mengingat dunia digital saat ini dalam kendali  dan pengaruh kapitalisme. Kapitalisme yang bertumpu pada keuntungan materi semata tidak akan peduli akan dampak dan pengaruh negative dari sosmed. Sisi negatip tersebut akan menjadi urusan dan tanggung jawab para orang tua dan individu itu sendiri. Sangat berbeda ketika islam yang mengatur kehidupan. Islam akan meminimalisir sedemikian rupa sisi negative dari sebuah hasil tehnologi. Jika adapun negara akan ikut bertanggung jawab mengurainya selain individu. Bagi islam kemaslahatan rakyat menjadi tujuan utama,bukan keuntungan semata yang menjadi tujuan,apalagi keuntungan yang bersifat materi. Maka,untuk menekan sisi negative dari sosmed keharusan untuk terikat dengan ajaran islam sangat dianjurkan. Keimanan individu akan menjadi rem untuk membatasi diri agar tidak terjebak pada sosmed yang membahayakan. Sudahkah rem tersebut ada pada diri kita?[fk]

Revolusi Sistem Pendidikan

Tidak ada komentar

Oleh : H. Indarto Imam, S. Pd. (Forum Pendidikan Indonesia)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi – Pendidikan yang sekular-materialistik gagal total menghasilkan generasi yang berkarakter mulia sekaligus gagal mengantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh, yakni  seorang manusia shalih dan mushlih. Hal ini disebabkan oleh  dua hal.

Pertama, paradigma pendidikan yang didasarkan pada ideologi sekular, yang tujuannya sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dalam pencapaian tujuan hidup, hedonistik dalam budaya masyarakatnya, individualistik dalam interaksi sosialnya, serta sinkretistik dalam agamanya. Kedua, kerusakan  fungsional pada tiga unsur pelaksana  pendidikan, yakni: (1)  lembaga pendidikan formal yang lemah; tercermin dari kacaunya kurikulum serta  tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya; (2) kehidupan keluarga yang tidak mendukung;  (3) keadaan  masyarakat yang tidak kondusif.

Perlu ada evaluasi merupakan komponen sistem pendidikan yang sangat menentukan sukses tidaknya pendidikan. Iman, takwa, akhlak, tidak bisa dievalusasi secara kognitif semata. Inilah hakikat pendidikan. Dengan pendidikan yang hakiki inilah insya Allah umat memiliki negara maju, kuat, adil, makmur, dan beradab (negara takwa). Begitu pentingnya adab, sampai Imam Syafii menegaskan, "Aku akan mencarinya, laksana seorang ibu mencari anak satu-satunya yang hilang."

Kita berharap, pendidikan kita tidak melahirkan manusia tak beradab (biadab): yang membangkang pada Allah, utusan-Nya, serakah harta dan tahta, serta gila hormat dan popularitas. Kita sepakat, bahwa Kemanusiaan yang adil dan beradab" bukan slogan kosong dan alat propaganda politik.

Kita juga berharap para orangtua juga bersungguh-sungguh menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai kepada anaknya.  Lemahnya pengawasan  terhadap  pergaulan anak dan minimnya teladan  dari orangtua dalam  sikap keseharian terhadap anak-anaknya makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan.

Masyarakat, semestinya menjadi  media pendidikan yang real, juga  berperan  menegaskan seluruh proses pendidikan di rumah dan persekolahan, bukan malah menegasikan. Sebab, dalam masyarakat  berkembang sistem nilai sekular; mulai dari bidang ekonomi, sosial, budaya, politik,  maupun tata pergaulan sehari-hari; berita-berita pada media masa juga cenderung mempropagandakan hal-hal negatif.

Oleh karena itu,  penyelesaian problem pendidikan yang  mendasar harus dilakukan pula secara  fundamental. Hal itu  hanya dapat diwujudkan dengan  melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari  perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi  paradigma Islam. Pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara  memperbaiki  strategi fungsionalnya  sesuai dengan arahan Islam.

Walhasil, pemahaman tentang karakter ideologi ini menjadi sangat penting untuk dipahami. Ketidakpahaman terhadap ideologi  yang dianut akan menyebabkan pemahaman yang bias terhadap seluruh sistem yang dibangun. Hal itu berimbas pada ketidakpahaman terhadap tujuan suatu sistem pendidikan dan karakteristik manusia yang hendak dibentuknya. Giliran berikutnya, sistem pendidikan yang dijalankan hanya akan membuat program-program pendidikan sebagai sarana trial and error dan menjadikan peserta didik bagai kelinci percobaan.

Islam punya jawaban. Politik pendidikan Islam adalah solusi ideal. Sangat jelas keunggulan sistem pendidikan Islam yang diatur oleh syariat Islam. Dengan bersikap obyektif terhadap syariat Islam, seharusnya manusia yang jujur, berpikir, dan memiliki nurani jernih akan kembali ke pangkuan syariat Islam. [fk]