Pelajaran dari Postingan Farhat, Negara Ini Butuh Politisi yang Alim

Tidak ada komentar



Oleh:
M. Arifin (Tabayyun Center)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Postingan di Instagram kontroversial diunggah Anggota Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Farhat Abbas Pada Senin (12/9/2018). Farhat mengunggah foto dirinya yang ditambahi tulisan: Pak Jokowi adalah Presiden yang menuntun Indonesia masuk surga! Foto itu diberikan "Yang Pilih Pak Jokowi Masuk Surga ! Yang Gak Pilih Pak Jokowi dan Yang Menghina, Fitnah & Nyinyirin Pak Jokowi ! Bakal Masuk Neraka ! ( jubir-Indonesia)". Bisa ditebak, selanjutnya Farhat meminta maaf. Dan permintaan maaf itu disampaikan Farhat lewat akun Instagram-nya farhatabbastv226, Rabu (12/9/2018). Dia mengaku ditegur Sekjen PKB Abdul Kadir Karding.

Catatan

Sebuah kemunduran jika negeri ini diisi politisi yang berpikir dangkal. Kepada saudara Farhat, klaim surga dan neraka adalah klaim serius, janganlah dipermainkan sehingga menimbulkan kekisruhan.

Ada banyak sekali ungkapan politisi yang tidak mencerminkan kejernihan dan kedewasaan dalam berucap dan bersikap. Mereka lahir dari demokrasi. Sistem demokrasi memisahkan antara diin dan kehidupan, yakni dengan mengesampingkan syari’at Allah dari berbagai lini kehidupan dan menyandarkan hukum kepada rakyat agar mereka dapat menyalurkan hak demokrasi mereka –seperti yang mereka katakan– melalui kotak-kotak pemilu atau melalui wakil-wakil mereka yang duduk di Majelis Perwakilan.

Sistem demokrasi ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah yang benar yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bid’ah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.

Sistem demokrasi tidak membedakan antara orang yang alim dengan orang yang jahil, antara orang yang mukmin dengan orang kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syar’i. padahal Allah Ta’ala berfirman: (Surat Az-Zumar: 9) , (Surat As-Sajdah: 18) , (Surat Al-Qalam: 35-36).

Kasus Farhat ini adalah cermin kegagalan demokrasi dalam membentuk politisi yang faqih fiddiiin. Dalam tradisi demokrasi, sangat dominan bagi orang yang berkiprah dalam kancah demokrasi akan rusak niatnya, karena setiap partai berusaha dan berambisi untuk membela partainya serta memanfaatkan semua fasilitas dan sarana yang ada untuk menghimpun dan dukungan politik dari massa yang ada di sekitarnya, khususnya sarana yang bernuansa religius seperti ceramah, pemberian nasehat, ta’lim, shadaqah dan lain-lain. (Terjun ke dalam kancah demokrasi) juga akan mengakibatkan rusaknya nilai-nilai akhlaq yang mulia seperti kejujuran, transparansi (keterusterangan) dan memenuhi janji, dan menjamurnya kedustaan,berpura-pura (basa-basi) dan ingkar janji.

Kalau kita mau mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui demokrasi berarti menikam (menghujat) para Rasul dan risalah (misi kerasulan) mereka, karena al-haq (kebenaran) kalau diketahui melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka tidak ada artinya diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak berbeda dengan tradisi mayoritas manusia yang memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.

Walhasil, kita butuh politisi yang bertaqwa yang lahir dari sistem yang shohih. Sesungguhnya sistem Islam adalah sistem yang akan membuat baik kondisi umat manusia. Dengan sistem selainnya, maka umat manusia akan terus berada dalam kesengsaraan dan penderitaan. Pihak yang kuat akan terus mengeksploitasi pihak yang lemah di antara mereka. Pihak yang kaya di antara mereka akan terus memperbudak orang-orang miskin dari mereka. Sehingga antar mereka akan menjadi musuh yang sengit satu sama lain. Maha Benar Allah yang Maha Agung yang telah berfirman:

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 123-124). [bhs]

Tidak ada komentar

Posting Komentar