Muslimah Bangkit Menjadi Rotor Perubahan! (Untuk Kemajuan Perempuan Seluruh Dunia)

Tidak ada komentar





Oleh: Ima Susiati


                Muslimah adalah aset terbesar bagi umat dan peradaban. Bagi orangtua, memiliki anak perempuan yang shalihah adalah investasi di dunia bahkan di akhirat. Ketika ia menjadi seorang istri yang taat dan ibu rumah tangga bagi suami dan buah hatinya, maka ia menjadi sebaik-baik perhiasan dunia. Terlebih ketika ia mampu membawa kepribadiannya sebagai teladan dalam kehidupan dan perubahan masyarakat yang lebih baik. Tentu tidak ada balasan yang patut baginya selain surga.

Setara dan Mulia

Perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan setara di dalam Islam. Tidak ada yang membedakan diantara keduanya, kecuali di dalam amanah yang sudah Allah Swt tetapkan. Kita tahu, bahwa fitrah dan tanggungjawabnya berbeda. Namun, bukan berarti perempuan mendapatkan pahala lebih sedikit ketimbang laki-laki. Tidak. Ia memiliki pahala yang tidak kalah tinggi di dalam mengemban amanahnya masing-masing.

Seperti halnya kisah sahabiyah di zaman Nabi Saw yang mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah Saw tentang pahala atas apa yang dilakukan –yang sebagaian besar berupa aktivitas domestik- jika dibandikan dengan laki-laki yang mendapatkan pahala dakwah dan jihad. Shahabiyah tersebut adalah Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah ra,
أنها أتت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهو بين أصحابه، فقالت: بأبي وأمي أنت يا رسول الله، أنا وافدة النساء إليك، إن الله عَزَّ وَجَلَّ بعثك إلى الرجال والنساء كافة، فآمنا بك وبإلاهك، وإنا معشر النساء محصورات مقصورات، قواعد بيوتكم، ومقضى شهواتكم، وحاملات أولادكم.
“Bahwa dia (Asma) mendatangi Rasulullah, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ berkata, ‘Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu, wahai Rasulullah. Saya adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada tuhanmu. Kami para wanita selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat, dan mengandung anak-anak kalian,
وإنكم معشر الرجال فضلتم علينا بالجمع والجماعات، وعيادة المرضى، وشهود الجنائز، والحج بعد الحج، وأفضل من ذلك الجهاد في سبيل الله عَزَّ وَجَلَّ وإن الرجل إذا خرج حاجا أو معتمرا أو مجاهدا، حفظنا لكم أموالكم، وغزلنا أثوابكم، وربينا لكم أولادكم، أفما نشارككم في هذا الأجر والخير؟
Sementara kalian – kaum laki-laki – mengungguli kami dengan shalat Jumat, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji, dan yang lebih utama dari itu adalah jihad fi sabilillah. Jika salah seorang dari kalian pergi haji, umrah, atau jihad maka kamilah yang menjaga harta kalian, menenun pakaian kalian, dan mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan ini sama seperti kalian?‘
فالتفت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلى أصحابه بوجهه كله، ثم قال: ” هل سمعتم مقالة امرأة قط أحسن من مساءلتها في أمر دينها من هذه؟ ” فقالوا: يا رسول الله، ما ظننا أن امرأة تهتدي إلى مثل هذا.
Nabi memandang para sahabat dengan seluruh wajahnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya daripada wanita ini?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia.’
فالتفت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إليها فقال: ” افهمي أيتها المرأة، وأعلمي من خلفك من النساء، أن حسن تبعل المرأة لزوجها وطلبها مرضاته، واتباعها موافقته، يعدل ذلك كله “.فانصرفت المرأة وهي تهلل
Nabi menoleh kepadanya dan bersabda, ‘Pahamilah, wahai Ibu, dan beritahu para wanita di belakangmu bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya, dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.’ Wanita itu pun berlalu dengan wajah berseri-seri.” (Usudul Ghaayah fi Ma’rifatis Shahabah, 7:17, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, cet. 1, 1415 H, Asy-Syamilah)

Instropeksi
Jika kita merenungkan kembali apa yang disampaikan kepada Rasulullah Saw tersebut, maka kita akan melihat sahabiyah, Asma’ binti Yazid ra, dengan rasa takjub. Mengapa demikian? Lantaran kita sebagai perempuan (muslimah) benar-benar paham bagaimana tugas yang kita miliki tidaklah ringan meski itu kita lakukan di kehidupan domestik. Namun, ternyata Asma’ binti Yazid memiliki kepribadian yang berbeda. Kita akan tahu bagaimana beliau mampu memanage tugas di dalam kehidupan rumah tangga dengan aktivitas di dalam kehidupan umum seperti menuntut ilmu dan juga menyampaikannya dengan berdakwah.

                Begitu pula dengan kita, sebagai seorang muslimah. Baik itu sebagai seorang anak yang memiliki amanah untuk berbakti kepada kedua orang, sebagai seorang istri dan ibu pengatur rumah tangga, dan juga sebagai bagian dari anggota masyarakat. Maka tentu, ketika itu semua menjadi amanah yang Allah swt anugerahkan kepada kita, muslimah, adalah menunjukkan bahwa sebenarnya kita mampu untuk menjalankannya sama seperti apa yang Allah Swt berikan kepada kaum laki-laki.

                Namun, tetap kembali kepada fitrahnya sebagai seorang perempuan muslimah yang ketika ia masuk dalam ranah kehidupan umum, maka ada ketentuan syar’I yang memang harus senantiasa dipegang teguh sehingga aktivitasnya di kehidupan umum bernilai pahala di sisi-Nya. Ketika seorang muslimah keluar rumah, maka ia harus memastikan bahwa keluarnya adalah untuk keperluan syar’i seperti menuntut ilmu, berdakwah, mengajar di masjid, menggunjungi tetangga dan sebagainya. Kemudian ia juga wajib untuk mengenakan pakaian di luar rumah berupa jilbab dan khimar (kerudung) serta tidak berpenampilan tabarruj (berdandan yang dilarang dalam Islam). Ia pun juga harus memastikan bahwa amanah utamanya di dalam rumah tidak terabaikan yakni mendidik dan mempersiapkan generasi pejuang Islam yang tangguh.

                Jadi, untuk apa setiap wanita berlomba-lomba keluar rumah atas nama emansipasi yang saat ini dihembuskan oleh Barat? Jika proses belajar itu dilakukan untuk mencari bekal agar dapat mendukung perannya sebagai pemegang kunci peradaban, sungguh itu sangat mulia. Namun, jika hanya dilakukan untuk pemuasan intelektual, kemudian menjadikannya alasan meninggalkan rumah untuk mengamalkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah agar tidak sia-sia, dan membayar setiap penjagaan dan perawatan anak kepada pembantu, apakah hal itu cukup sebanding? Tentu tidaklah demikian wahai muslimah perindu surga-Nya.

Kita pun harus kembali melihat sejarah bagaimana Asma binti Abu Bakar bertutur tentang kehidupannya dengan Zubair: “Zubair menikahiku sedangkan dia tidak memiliki apa-apa kecuali kudanya. Akulah yang mengurusnya dan memberinya makan, dan aku pula yang mengairi pohon kurma, mencari air, dan mengadon air. Aku juga mengusung kurma yang dipotong oleh Rasulullah dari tanahnya Zubair yang aku sunggi di atas kepalaku sejauh dua pertiga farsakh”. Lalu apakah dengan itu, Asma binti Abu Bakar menjadi berbangga diri dan meremehkan posisi suami, sehingga ketaatan dan penghormatan kepadanya menjadi berkurang. Tidak demikian yang terjadi kepada putri sahabat Rasul Saw yang dijamin surga ini.

Beliau pun juga berkata: “Pada suatu hari tatkala saya sedang mengusung kurma di atas kepala, saya bertemu dengan Rasulullah Saw bersama seseorang. Beliau memberi isyarat dengan maksud agar aku naik kendaraan di belakangnya, namun saya merasa malu dan saya ingat Zubeir dan rasa cemburunya, maka beliau berlalu. Tatkala aku sampai di rumah, aku kabarkan hal itu kepada Zubair. Dia berkata, ‘Demi Allah, engkau mengusung kurma tersebut lebih berat bagiku daripada engkau mengendarai kendaraan bersama beliau. Kemudian Asma berkata, “Sampai akhirnya Abu Bakar mengirim pembantu setelah itu, sehingga saya merasa cukup untuk mengurusi kuda, seakan-akan dia telah membebaskanku”.

Resonansi

Sekarang, dengan kebangkitan politik yang menyebar ke seluruh Arab dan negeri-negeri Muslim, ada kesempatan bersejarah untuk membawa perubahan nyata bagi perempuan di seluruh wilayah ini. Bagaimanapun, perubahan yang sesungguhnya itu tidak bisa diwujudkan melalui reformasi parsial, atau dengan menambah kuota perempuan di parlemen dan pemerintahan, atau dengan menjamin hak perempuan yang diabadikan di dalam konstitusi baru. Sebagian besar negeri-negeri Muslim di dunia seperti Pakistan, Sudan dan Afganistan yang memiliki kuota perempuan lebih tinggi di parlemen dan pemerintahan daripada negara Barat, ternyata tidak meningkatkan standar hidup perempuan di masyarakat.

Banyak juga negari-negeri Muslim yang menandatangani perjanjian internasioal perempuan, seperti CEDAW, dengan memasukkan hak-hak perempuan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan hukum ke dalam undang-undang. Namun, hak-hak ini berperan kecil di bawah sistem politik yang bermain untuk kepentingan elit atas rakyat kecil dan di bawah disfungsi ekonomi yang mengkonsentrasikan kekayaan negara di tangan segelintir orang dan memiskinkan sebagian besar rakyat.

Membawa perubahan nyata untuk perempuan di negeri-negeri Muslim membutuhkan pandangan politik baru yang radikal. Saat ini banyak muslimah yakin bahwa hanya JALAN ISLAM yang menawarkan ini. Solusi Islam dalam bernegara konsekuensinya negara yang ditegakkan atas hukum-hukum Allah SWT, Zat Yang mengetahui yang terbaik tentang bagaimana mengurus urusan umat.

Saat muslimah mengenal sistem Khilafah, ini menjadi satu-satunya yang mampu menangani dengan kredibel dan memberikan solusi praktis untuk berbagai masalah politik, ekonomi dan sosial yang saat ini menimpa perempuan di seluruh negeri-negeri Muslim dan di seluruh dunia.

Para muslimah Ideologis harus bangkit dan bergerak menjadi rotor perubahan menuju lebih baik, dengan menggambarkan bagaimana hukum dan system Islam memiliki potensi untuk menciptakan kemajuan yang sesungguhnya untuk kehidupan perempuan seluruh dunia.
               

Tidak ada komentar

Posting Komentar