Kabar Nasional

kabarnasional/cate1

Kabar Internasional

kabarinternasional/cate2

Suara Pemuda

suarapemuda/cate3

Khazanah

khazanah/cate4

Puisi Kritis

puisikritis/cate5

Videos

videos/cate6

Recent post

Menolak Upaya-Upaya Intimidasi dan Adu Domba Umat Islam!

Tidak ada komentar



Oleh:
Abu Inas (Tabayyun Center)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - "Kontestasi pilpres paling jorok adalah ketika intimidasi terhadap mereka yang berbeda massif dan terbuka dilakukan dengan mengabaikan hukum. Yakin lah saya dan masyarakat yang lain sejatinya tidak ikut-ikutan bisa kesal dan bergerak. Pak Jokowi jangan biarkan demokrasi kita dirusak," ujar Dahnil dikutip Minggu (26/8/2018) dari akun Twitter @Dahnilanzar.

Dia mengaku heran, aparat keamanan malah membiarkan para pelaku yang mengancam dan menghalangi masyarakat yang ingin berkumpul menyampaikan aspirasi pergantian presiden pada 2019. Baginya, peristiwa ini menjadi ancaman serius untuk kelangsungan demokrasi di Indonesia.

Selanjutnya membincang kasus-kasus persekusi maupun upaya kriminalisasi terhadap sejumlah ulama di tahun politik ini, negara harus hadir menghentikan tindakan intimidasi itu. Tindak intimidasi itu menebar syiar ketakutan publik. Kepolisian negara sebaiknya secara proaktif segera menjelaskan ke publik tentang dugaan kasus intimidasi itu demi terpenuhinya hak publik untuk tahu tentang kebenaran informasi itu (rights to know). Sebelumnya beredar kabar intimidasi dialami UAS untuk menghadiri acara dakwah di berbagai daerah tak sejalan dengan iklim ukhuwah dan ketentraman umum yang sedang dibangun. Cara-cara dugaan intimidasi seperti ini justru merugikan rezim berkuasa dan tidak menggambarkan cara mendukung yang baik dan benar.

Adanya permainan dari segelintir kelompok atau oknum yang menginginkan umat Islam terpecah belah. Merasa alergi dengan ceramah yang dianggap kritis dan mengkritik rezim saat ini. Mereka bertujuan untuk membenturkan sesama umat Islam dalam melakukan persekusi.

Hal tersebut berupa tekanan-tekanan yang menjustifikasi seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yang memecah belah, anti-NKRI, anti-Pancasila, intoleransi, dan antikebhinekaan. Sayangnya, aparat kepolisian tak mampu bertindak menghadapi sekelompok orang tersebut, malah aparat mengakui bahwa mereka mendapat tekanan. Padahal, sejatinya aparat adalah pihak pelayan dan pengayom masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa negara sedang darurat pihak keamanan yang telah membiarkan aktivitas persekusi terjadi di tengah masyarakat.

Ironisnya, ancaman nyata yang sedang terjadi di Papua tak pernah mendapat respon yang serius dari pihak kepolisian dan ormas yang melabeli dirinya penjaga NKRI. Organisasi Papua Merdeka telah nyata membentangkan bendera Bintang Kejoranya, mereka juga mendeklarasikan untuk berjuang mendapatkan kemerdekaan dan melepaskan diri dari Indonesia.

Persekusi yang dilakukan kepada aktivis dakwah, mulai semakin terlihat semenjak aksi bela Islam. Pelabelan materi-materi Islam menjadi materi yang layak dan tidak layak untuk disebar luaskan, materi yang radikalis atau moderat, seolah-olah menjadi penting . Materi yang dianggap anti-bhineka, anti Pancasila dilarang untuk disampaikan di tengah-tengah umat dengan alasan radikalisme. Hal ini justru aneh.

Rasulullah saw dalam menyebarkan dakwah Islam tidak pernah memikirkan apakah kaum kafir Quraisy di Makah waktu itu akan menerima dakwah atau menolaknya. Rasulullah lantang menentang penyembahan Latta Uzza di sekeliling Ka’bah, dan mengatakan mereka adalah berhala, dan hanya Allah yang berhak disembah. Hasilnya dapat kita saksikan dalam shirah Nabawiyah, bagi yang menerima dakwah Islam mereka berIslam. Bagi yang menolak ada yang mendiamkan ajaran Rasul ada yang menolak bahkan menentang dengan terang-terangan.

Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah saw untuk semua kalangan. Mempelajari Islam secara mendalam adalah mempelajarinya secara kaffah, menyeluruh. Bukan malah  dianggap ajaran radikalisme. Hal ini justru aneh. Karena Rasulullah pun tidak pernah menyatakan mempelajari Islam secara mendalam dikatakan sebagai umat yang radikal atau pun fundamentalis.

Umat Islam hendaknya menyadari, ada upaya pecah belah yang dilakukan barat terhadap mereka. Tahun 2007, proyek adu domba umat Islam diterbitkan Rand Corp., Rand menerbitkan lagi dokumen Building Moderate Muslim Networks. RAND Corp merupakan Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah atas biaya Smith Richardson Foundation, berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS). Sebelumnya ia perusahaan bidang kedirgantaraan dan persenjataan Douglas Aircraft Company di Santa Monica-California, namun entah kenapa beralih menjadi think tank (dapur pemikiran) dimana dana operasional berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer.

Paska kemerdekaan politik adu domba masih menjadi pilihan favorit para penjajah untuk melumpuhkan islam dengan strategi memasarkan kebebasan, demokrasi, kesetaraan, HAM, dan pluralisme,sampai pada era repormasi saat ini politik adu domba masih eksis.

Tentu umat Islam wajib menyadari bahaya politik ini sekaligus melakukan serangkaian usaha untuk menjaga kesatuan dan persatuan kaum muslim dengan cara menjadikan akidah islam sebagai pondasi pengikat seluruh kaum muslim dimana pun berada dan menjadikan hukum syariah sebagai tolak ukur amal perbuatan dan al-quran sebagai pedoman umat islam di terapkan secara menyeluruh baik oleh individu ,masyarakat,dan Negara untuk meraih kembali persatuan umat. [bhs]

Pada Infinity War, Siapa Sosok Thanos dan Gengnya dalam Realitas Pak Presiden?

Tidak ada komentar



Oleh:
Lukman Noerochim (staf ahli FORKEI)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Presiden Joko Widodo menyebut perekonomian dunia saat ini seperti film avengers infinity war, atau perang yang tak terbatas. Sosok thanos yang mengancam memusnahkan setengah populasi bumi karena akan menghabiskan sumberdaya yang terbatas, namun Presiden Jokowi menyebut sumber daya bumi tidak ada batasnya karena manusia bisa memanfaatkannya dengan baik. (https://www.antaranews.com/video/747697/presiden-analogikan-ekonomi-dunia-bak-film-avengers)

Perang yang tak terbatas pak Presiden? Betul, yaitu perang terhadap kebijakan ekonomi sosialistik dan Kapitalistik sebagai public enemies yang memerosokkan banyak negara. Sementara pada tataran realitas kita melihat paradigma kebijakan ekonomi liberalistic masih dipraktikkan. Dalam hal ini, pemerintah justru membangun keterikatan dengan lembaga-lembaga global Kapitalisme seperti organisasi perdagangan bebas dunia (WTO), IMF, World Bank, dan ADB.

Indonesia terikat dengan Kapitalisme global adalah upaya pemerintah menyerahkan harga BBM pada mekanisme pasar internasional. Ini artinya pemerintah menyerahkan harga komoditas BBM (yang sebagian sumber dayanya ada di negeri sendiri) mengikuti turun naiknya harga minyak mentah yang ditentukan oleh para penjudi (spekulan) di lantai bursa dunia.

Kita telah menyadari bahaya sistem buas kapitalisme yang tidak mengindahkan nilai-nilai apapun dalam memuaskan keserakahan tanpa batas dalam kondisi tidak ada penghalang, dan sanksi spiritual, moral, dan kemanusiaan. Satu-satunya nilai yang digunakan oleh kelompok “ikan paus” keuangan itu adalah menciptakan sebanyak-banyaknya trik dan sarana yang memungkinkan mereka memperoleh sebanyak-banyaknya harta riil dan non riil dengan biaya yang seminimal mungkin dan jika mungkin tanpa biaya.

Dunia sebelumnya telah menyaksikan pada dekade 90-an bagaimana upaya presiden Soviet Gorbachev menambal sulam sistem Marksisme hingga ambruk total, sistem yang telah mengadopsi sosialisme ilmiah. Upaya tambal sulam itu tidak mampu menyelamatkannya, akan tetapi hanya membuatnya limbung kemudian ambruk total. Itu pulalah yang akan terjadi terhadap kapitalisme. Karena tambal sulam sistem kapitalis telah melampaui asas-asas sistem itu sendiri. Di mana intervensi negara di pasar bertentangan dengan asas yang menjadi pondasi sistem kapitalis yang menyerukan kebebasan pasar.

Hanya perbedaan yang tersisa adalah bahwa bangsa Eropa Timur dan Rusia dahulu setelah mengingkari sistem Marxismenya mengharap sesuatu yang mereka anggap surga kapitalisme yang dijanjikan. Setelah tampak jelas hakikat surga itu, bahwa ternyata adalah neraka yang tidak memberi ampun, maka pertanyaan yang terus bergulir dalam kajian umat manusa adalah: apa alternatif dari sistem kapitalisme yang rusak itu?

Hingga BBC dalam presentasinya kepada pers ada tanggal 29 September 2008 mengatakan: “Setelah dua dekade ambruknya teori komunisme secara total, sekarang raksasa ekonomi Amerika mengalami pukulan mematikan dan limbung hampir ambruk! Akan tetapi pertanyaan yang wajib dilontarkan adalah: apa alternatif ekonomi global setelah amruknya sistem kapitalisme? Apakah yang akan menjadi alternatif itu adalah teori ekonomi Islam global?”

Sejak krisis sebelumnya, sebagian ekonom memandang bahwa kembali ke basis emas dalam back up uang kertas adalah perkara yang mendasar dan bahwa sistem ribawi yang diterapkan di dunia adalah asas bencana. Bank-bank sendiri telah menyadari hal itu sehingga mereka menurunkan tingkat bunga kredit sampai batas paling rendah untuk mendorong pergerakan keuangan di pasar. Di antara para intelektual itu ada yang memusatkan perhatiannya bahwa uang di dalam Islam tidak boleh kecuali menggunakan basis emas dan perak dan bahwa riba di dalam Islam merupakan kejahatan besar. Jadi di dalam Islam tidak ada riba sama sekali atas kredit yang dkucurkan. Yaitu dalam bahaa mereka: bunga nol.

Begitu pula sebagian mereka memperhatikan pengklasifikasian unik terkait kepemilikan di dalam Islam, yang terdiri dari tiga jenis kepemilikan: kepemilikan pribadi, kepemilikan negara, dan kepemilikan publik. Dan masing-masing jenis kepemilikan itu memiliki hukum-hukum yang tidak boleh dilanggar. Pada saat di mana sosialisme mengatakan bahwa kepemilikan publik bagi negara dan dimutlakkan, dan tidak ada ruang bagi kepemilikan pribadi. Semantara kapitalisme mengatakan kepemilikan pribadi dan dimutlakkan sehingga hamir tidak tersisa ruang bagi kepemilikan publik.

Sistem ekonomi kapitalis telah memutlakkan kepemilikan individu. Hasilnya adalah tirani kepemilikan individu terhadap kepemilikan publik dan kepemilikan negara itu sendiri sehingga negara dan masyarakat serta sebagian besar kekuatan ekonomi yang ada di suatu negeri menjadi tergadai ditangan segelintir orang kaya monopolis dan rakus yang mengeksploitasi kebebasan kepemilikan secara mutlak.

Mereka mendirikan bank-bank ribawi raksasa bertolak dari kebebasan kepemilikan. Begitu pula mereka mendirikan perusahaan-perusahaan kapitalis raksasa, nyata maupun fiktif, dan bermain-main di pasar keuangan “bursa” dengan cara-cara setan, kemudian perusahaan-perusahaan dan bank-bank itu mengendalikan pasar-pasar dan kekayaan, melahap perusahaan-perusahaan kecil yang ada di jalannya, persis seperti ikan paus yang melahap ikan-ikan kecil. Hal itu bertolak dari kebebasan pengelolaan kepemilikan, melalui kebijakan spekulasi, kontrol ekonomi dan monopoli. Semua itu bertolak dari kebebasan pengembangan harta menggunakan metode yang diinginkan oleh para kapitalis! [bhs]

Pelajaran dari Postingan Farhat, Negara Ini Butuh Politisi yang Alim

Tidak ada komentar



Oleh:
M. Arifin (Tabayyun Center)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Postingan di Instagram kontroversial diunggah Anggota Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Farhat Abbas Pada Senin (12/9/2018). Farhat mengunggah foto dirinya yang ditambahi tulisan: Pak Jokowi adalah Presiden yang menuntun Indonesia masuk surga! Foto itu diberikan "Yang Pilih Pak Jokowi Masuk Surga ! Yang Gak Pilih Pak Jokowi dan Yang Menghina, Fitnah & Nyinyirin Pak Jokowi ! Bakal Masuk Neraka ! ( jubir-Indonesia)". Bisa ditebak, selanjutnya Farhat meminta maaf. Dan permintaan maaf itu disampaikan Farhat lewat akun Instagram-nya farhatabbastv226, Rabu (12/9/2018). Dia mengaku ditegur Sekjen PKB Abdul Kadir Karding.

Catatan

Sebuah kemunduran jika negeri ini diisi politisi yang berpikir dangkal. Kepada saudara Farhat, klaim surga dan neraka adalah klaim serius, janganlah dipermainkan sehingga menimbulkan kekisruhan.

Ada banyak sekali ungkapan politisi yang tidak mencerminkan kejernihan dan kedewasaan dalam berucap dan bersikap. Mereka lahir dari demokrasi. Sistem demokrasi memisahkan antara diin dan kehidupan, yakni dengan mengesampingkan syari’at Allah dari berbagai lini kehidupan dan menyandarkan hukum kepada rakyat agar mereka dapat menyalurkan hak demokrasi mereka –seperti yang mereka katakan– melalui kotak-kotak pemilu atau melalui wakil-wakil mereka yang duduk di Majelis Perwakilan.

Sistem demokrasi ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah yang benar yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bid’ah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.

Sistem demokrasi tidak membedakan antara orang yang alim dengan orang yang jahil, antara orang yang mukmin dengan orang kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syar’i. padahal Allah Ta’ala berfirman: (Surat Az-Zumar: 9) , (Surat As-Sajdah: 18) , (Surat Al-Qalam: 35-36).

Kasus Farhat ini adalah cermin kegagalan demokrasi dalam membentuk politisi yang faqih fiddiiin. Dalam tradisi demokrasi, sangat dominan bagi orang yang berkiprah dalam kancah demokrasi akan rusak niatnya, karena setiap partai berusaha dan berambisi untuk membela partainya serta memanfaatkan semua fasilitas dan sarana yang ada untuk menghimpun dan dukungan politik dari massa yang ada di sekitarnya, khususnya sarana yang bernuansa religius seperti ceramah, pemberian nasehat, ta’lim, shadaqah dan lain-lain. (Terjun ke dalam kancah demokrasi) juga akan mengakibatkan rusaknya nilai-nilai akhlaq yang mulia seperti kejujuran, transparansi (keterusterangan) dan memenuhi janji, dan menjamurnya kedustaan,berpura-pura (basa-basi) dan ingkar janji.

Kalau kita mau mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui demokrasi berarti menikam (menghujat) para Rasul dan risalah (misi kerasulan) mereka, karena al-haq (kebenaran) kalau diketahui melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka tidak ada artinya diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak berbeda dengan tradisi mayoritas manusia yang memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.

Walhasil, kita butuh politisi yang bertaqwa yang lahir dari sistem yang shohih. Sesungguhnya sistem Islam adalah sistem yang akan membuat baik kondisi umat manusia. Dengan sistem selainnya, maka umat manusia akan terus berada dalam kesengsaraan dan penderitaan. Pihak yang kuat akan terus mengeksploitasi pihak yang lemah di antara mereka. Pihak yang kaya di antara mereka akan terus memperbudak orang-orang miskin dari mereka. Sehingga antar mereka akan menjadi musuh yang sengit satu sama lain. Maha Benar Allah yang Maha Agung yang telah berfirman:

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 123-124). [bhs]

Menolak Hegemoni Ekonomi di NKRI

Tidak ada komentar



Oleh:
Taufik S. Permana (Geopolitical Institute)

BERGERAKNEWS | Kabar Nasional - Teman-teman, hari ini dollar menguat, rupiah melemah. Lalu dicari-cari alasan dan kambing hitam, diantaranya: neraca perdagangan deficit, kinerja perdagangan tidak optimal, Adanya yield spread antara US Treasury atau surat berharga pemerintah AS dan Surat Berharga Negara tenor 10 tahun yang semakin lebar juga turut berpengaruh pada melemahnya rupiah, termasuk infrastruktur sistem perbankan yang kurang memadai ditambah perang dagang yang disinyalir memperburuk kondisi keuangan global.

Teman-teman, kami katakan, pilar penting faktor lemahnya rupiah dan terjadinya berbagai krisis ekonomi termasuk krisis moneter yang selalu berulang di Indonesia dan juga kawasan Asia, bahkan juga di negara-negara Eropa dan Amerika, sebenarnya disebabkan adanya faktor internal-substansial dari sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di dunia saat ini.

Sistem ekonomi kapitalis ini dirancang sedemikian rupa oleh Negara-negara Barat dengan tujuan untuk mempertahankan hegemoninya terhadap negara-negara berkembang. Di antara prinsip dan pola sistem kapitalis yang menyebabkan terjadinya krisis ini adalah: Sistem perbankan dengan suku bunga; berkembangnya sektor non riil; utang luar negeri yang menjadi tumpuan pembiayaan pembangunan; penggunaan sistem moneter yang tidak disandarkan pada emas dan perak; dan liberalisasi atau swastanisasi sumberdaya alam.

Teman-teman, praktek ribawi, sejak masa Yunani Kuno, sebenarnya tidak disukai dan dikecam habis-habisan. Aristoteles mengutuk sistem pembungaan ini dengan mengatakan riba sebagai ayam betina yang mandul dan tidak bisa bertelur. Begitu juga ekonom modern, misalnya J.M. Keyness, mengkritik habis-habisan teori klasik mengenai bunga uang ini. Keynes beranggapan, perkembangan modal tertahan oleh adanya suku bunga uang. Jika saja hambatan ini dihilangkan, lanjut keynes, maka pertumbuhan modal di dunia modern akan berkembang cepat. Hal ini memerlukan kebijakan yang mengatur agar suku bunga uang sama dengan nol.

di sektor non riil diperdagangkan mata uang dan surat berharga termasuk surat utang, saham, dan lainnya. Sektor ini terus membesar dan segala transaksinya tidak berpengaruh langsung pada sektor riil (sektor barang dan jasa). Pertumbuhan yang ditopang sektor ini akhirnya menjadi pertumbuhan semu. Secara angka ekonomi tumbuh tapi tidak berdampak pada perekonomian secara riil dan perbaikan taraf ekonomi masyarakat.

Transaksi di sektor keuangan ini lebih banyak ditujukan untuk mendapat keuntungan yang besar secara cepat dari selisih harga valuta dan surat berharga. Makin besar selisih makin besar pula keuntungan yang didapat. Untuk itu tak jarang para pelaku sektor ini merekayasa pasar modal. Saat ini transaksi yang terjadi di pasar finansial sekitar Rp. 6,7 Trilyun per hari dan 60 % masih dikuasai asing. Jika investasi di luar negeri lebih menarik, dalam waktu singkat bisa terjadi aliran modal ke luar negeri (capital outflow) yang bisa menyebabkan melemahnya nilai rupiah. Dan itulah di antaranya yang terjadi akhri-akhir ini.

Sementara itu, utang luar negeri oleh para penjajah dijadikan sebagai salah satu alat penjajahan baru. Dengan utang, negara-negara berkembang terjebak dalam perangkap utang atau Debt Trape. Mereka terus dieksploitasi dan kebijakannya dikendalikan. Nyatanya, total utang negeri ini tidak pernah berkurang, bahkan terus meningkat hingga lebih dari 5000 triliun rupiah pada saat ini. Semua itu diperparah oleh sistem moneter yang diterapkan di seluruh dunia saat ini yang tidak disandarkan pada emas dan perak. Uang akhirnya tidak memiliki nilai instrinsik yang bisa menjaga nilainya. Nilai nominal yang tertera ternyata sangat jauh berbeda dengan nilai intrinsiknya. Ketika terjadi penambahan uang baru melalui pencetakan uang baru atau penambahan total nominal uang melalui sistem bunga dan reserve banking, maka total nominal uang dan jumlah uang yang beredar bertambah lebih banyak, tak sebanding dengan pertambahan jumlah barang. Akibatnya, nilai mata uang turun dan terjadilah inflasi.

Teman-teman, kita melihat rezim ini masih mempertahankan liberalisasi ekonomi. Liberalisasi ekonomi, selain berarti menghilangkan peran dan tanggung jawab pemerintah dalam sektor ekonomi, juga berarti menyerahkan semuanya kepada individu dan mekanisme pasar (kekuatan penawaran dan permintaan). Liberalisasi ini sekaligus akan merobohkan hambatan perdagangan internasional dan investasi. Perjanjian perdagangan bebas seperti CAFTA, MEA merupakan bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Padahal Pemerintah seharusnya melindungi rakyat dari ketidakberdayaan ekonomi. Dengan perjanjian tersebut, sengaja atau tidak, Pemerintah telah membahayakan bahkan “membunuh” usaha dan industri dalam negeri baik skala besar apalagi skala kecil, yang tentu akan mengakibatkan makin meningkatnya angka pengangguran. Karena itu, Indonesia mutlak harus keluar dari perjanjian-perjanjian merusak dan segala bentuk perjanjian perdagangan bebas yang nyata-nyata membahayakan rakyat dan negara.

Sesungguhnya Islam telah menawarkan kepada umat sistem ekonomi yang dapat membangun kemandirian negara sekaligus menjamin berkembangnya industri-industri dalam negeri serta sektor ekonomi lainnya. Sistem Ekonomi Islam mengatur kepemilikan individu, kepemilikan negara dan kepemilikan umum. Kewajiban negara adalah memastikan tersedianya bahan baku, energi, modal dan pembinaan terhadap pelaku ekonomi rakyatnya. Negara juga wajib mengatur ekspor dan impor barang sehingga betul-betul bisa mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat. Eskpor bahan mentah, misalnya, seharusnya dibatasi. Sebaliknya, ekspor barang-barang hasil pengolahan yang lebih memiliki nilai tambah harus terus ditingkatkan selama telah memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebaliknya, impor barang-barang yang bisa mengancam industri dalam negeri harus dibatasi. Impor seharusnya hanya terbatas pada barang-barang yang bisa memperkuat industri di dalam negeri. Semua itu dilakukan antara lain dalam melindungi berbagai kepentingan masyarakat. Sebab, kewajiban negaralah untuk menjadi pelindung bagi rakyatnya. [bhs]

Ibu Bagi Generasi Masa Depan

Tidak ada komentar



Oleh: Wafiyyaah (Tim Penulis Pena Langit)

BERGERAKNEWS | Khazanah - Perempuan memang makhluk unik, memiliki perasaan yang kuat, sifatnya lemah lembut, dan telaten.  Sungguh berbeda dengan laki-laki yang mengandalkan logika dan mempunyai raga kuat. 

Ya, perempuan mempunyai fisik yang tidak sekuat kaum Adam. Tetapi perannya yang luar biasa sebagai tonggak peradaban tidak boleh diragukan. Bahkan banyak pepatah mengatakan, "Bila perempuannya rusak, negeri itu juga akan rusak". Ini memang hanya kata pepatah, namun sekarang sudah menjadi kenyataan yang bisa dikatakan miris.

Perempuan distimulus untuk bekerja sehari penuh, bahkan fenomena TKW, pekerja pabrik dominan kaum hawa atau meningkatnya populasi PSK menjadi contoh bahwa perempuan menjadi penggerak roda perekonomian di zaman kapitalis ini. Sehingga tidak heran mereka meninggalkan anak-anaknya karena harus membantu suami menyambung kehidupan atau sekadar untuk eksistensi diri.

Bisa ditebak apa jadinya generasi yang mereka lahirkan tanpa adanya didikan dari ibu? Generasi rusak, tersandera narkoba, pergaulan bebas, tawuran, generasi alai dan lainnya.

Menjadi Ibu Bagi Generasi Masa Depan

Beberapa hari yang lalu saya menemukan film yang luar biasa yakni "Umar Mukhtar" pemimpin pasukan elit pada era kekhilafahan Turki Utsmani pada abad ke 18-19 Masehi. Ia saat itu memimpin pasukan elit sanussiyah untuk mempertahankan Tripoli, Libia dari penjajahan Italia.

Namun, pada awal abad 19 kekhilafahan Turki Utsmani kalah akhirnya banyak negara yang dibagi-bagi termasuk Libia yang diserahkan kepada Italia. Tetapi Umar Mukhtar dan pasukan elitnya tetap berusaha mempertahankan Tripoli hingga akhirnya peperangan terjadi selama 20 tahun dan berakhir dengan kekalahan Tripoli.

Ada sebuah adegan yang menarik ketika Umar Mukhtar dan pasukannya memenangkan suatu peperangan. Mereka pulang penuh syukur dan senyum sumringah diatas kuda-kuda mereka.
Sesampainya di pemukiman semua kaum ibu beserta anaknya menyambut kedatangan pasukan tersebut karena suami dan ayah mereka bergabung dalam pasukan elit itu untuk mempertahankan Libia.

Namun anehnya, ada seekor kuda yang kosong tidak ada penunggangnya. Kemudian, ada seorang perempuan yang menggandeng tangan anaknya bertanya kepada Umar Mukhtar "Dimana suamiku?"
Lalu, Umar memberikan buku catatan yang ia ambil dari baju suami perempuan tersebut ketika dalam peperangan dan mengatakan "Suamimu syahid." Perempuan itu menangis terisak dihadapan anaknya dan terlihat raut wajah anaknya ikut sedih.

Kemudian Umar mengatakan "Janganlah kau sering menangis dihadapan anakmu, karena anakmu yang akan menggantikan perjuangan ayahnya kelak." 

Kemudian anak kecil itu dibawa Umar untuk berkeliling desa dan dikenalkan pada para prajurit untuk menguatkan anak tersebut.

Dari sinilah saya melihat bahwa ibu memang menjadi unsur yang sangat penting bagi sebuah peradaban. Ibulah yang mengasuh, mendidik, dan membentuk karakter para generasi penerusnya.

Pengebirian perannya sebagai ummun wa rabbatul bait sangatlah berdampak negatif bagi keberlangsungan kehidupan. Tanpanya negeri akan mati, kegemilangan generasi tidak akan pernah tercapai. [bhs]

Anda bayar, Kami Segan

Tidak ada komentar



Oleh: Umi Salamah (Aktivis Mahasiswi)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Nyatanya tak hanya orang kaya merdeka yang bisa menyewa dan membeli barang-barang mewah secara bebas. Tapi, orang yang sedang menjalani masa tahanan lantaran melakukan tindak korupsi pun bisa dengan leluasa melakukannya. 

Lapas yang yang menjadi tempat pembinaan narapidana korupsi pun kini bisa dibeli. Hanya dengan ratusan juta saja semua fasilitas lengkap dan mewah tersedia di dalam lapas. Tak hanya itu, bahkan bisa meninggalkan lapas untuk berlibur ke luar negeri.  Perbuatan tercela ini diizinkan dengan membayar sejumlah uang.

Bisa jadi kasus tersebut tak hanya di lapas Sukamiskin, tapi juga koruptor-koruptor kelas kekap di tempat lain pun demikian. Dalam penanganan hukum di Indonesia tak hanya sekali duakali kasus korupsi itu menguap dan tak terjamah sama sekali. Bahkan nama-nama dari kasus besar seperti korupsi e-KTP yang belum semua ditindak, BLBI dan century yang belum ada kelanjutannya.

Tajam ke bawah tumpul ke atas seakan menjadi primadona dalam peradilan negeri ini.  Beda koruptor dengan kasus seorang nenek yang mencuri karena lapar atau seorang anak kecil yang mencuri dan dihakimi masa ditempat umum. Seolah-olah mudah sekali hukum di Indonesia mengadili orang-orang miskin yang mencuri karena lapar. Akan tetapi para koruptor yang sudah terbukti membawa uang rakyat bernilai triliunan rupiah menjalani proses hukum yang berbelit-belit dan penuh drama. 

Inilah yang dinamakan kapitalisme. Dimana orang kaya bebas membeli apapun yang mereka inginkan. Termasuk kemewahan dalam masa tahanan. Kapitalisme akan selalu ada jika berada dalam sistem yang mendukungnya seperti sistem yang menyuburkan kebebasan seperti demokrasi sekarang ini. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memiliki dan juga bebas untuk membeli apa yang bisa dibeli.

Kapitalisme dan demokrasi tidak hanya menjamin kebebasan individu, tapi juga melahirkan hukum yang tumpul keatas dan tajam kebawah. Berbeda dengan peraturan islam yang tidak akan memberi peluang kepada siapapun, termasuk koruptor kelas kakap yang memiliki banyak kekayaan untuk bebas. Penjara yang diperuntukan untuk kasus tindak korupsi pun akan benar-benar dapat membuat pelaku korupsi itu jera. [bhs]