Kabar Nasional

kabarnasional/cate1

Kabar Internasional

kabarinternasional/cate2

Suara Pemuda

suarapemuda/cate3

Khazanah

khazanah/cate4

Puisi Kritis

puisikritis/cate5

Videos

videos/cate6

Recent post

Inilah Hukum di alam Demokrasi Pak Jimly, Sangat Berbeda dengan Islam

Tidak ada komentar



Oleh:
M. Nur Rakhmad, SH. (LBH Pelita Umat Korwil Jatim)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - "Kalau semua orang masuk penjara, nanti negara kosong cuma gara-gara beda pendapat. Nanti kita kekurangan penjara sebab kepenuhan," ujar Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) & Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. DR. Jimly Asshiddiqie, S.H., dalam siaran persnya, Rabu (13/3) sebagaimana dikutip dari republika.co.id (13/3/19).

Rezim manapun yang telah membuat hukum menjadi rusak tidak boleh dibiarkan, harus dihentikan. Karena bila dibiarkan hukum akan semakin rusak dan keadilan semakin jauh dari harapan yang sangat di dambakan dengan slogan Tegakkan Keadilan Meskipun Langit Runtuh (Fiat Justitia Ruat Caelum). Hukum dikembalikan kepada relnya karena Negara kita Negara Hukum (RECHSTAAT) yaitu untuk mewujudkan keadilan bukan mengalami BIFURKASI digunakan untuk kepentingan politik dan kekuasaan (MACHSTAAT), apalagi kemudian dilakukan diskriminasi hukum.

Konsep demokrasi telah gagal semenjak lahirnya di Athena Yunani, Aristoteles (348-322 SM) menyebut Demokrasi sebagai Mobocracy atau Pemerintah Segerombolan Orang. Dia menyebutkan Demokrasi sebagai sebuah system bobrok karena pemerintahan dilakukan oleh massa, demokrasi rentan akan anarkisme. Plato (472-347 SM) mengatakan liberalisasi adalah akar demokrasi sekaligus biang petaka mengapa Negara demokrasi akan gagal selamanya.

Plato dalam bukunya The Republic mengatakan, “Mereka adalah orang-orang merdeka, Negara penuh dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, dan orang-orang di dalam sana boleh melakukan apa yang mereka sukai.” Maka tidak heran semua orang akan mengejar kemerdekaan tanpa batas yang menjadi bencana bagi Negara dan warganya. Tiap orang ingin mengatur diri sendiri dan berbuat sesuka hati sehingga menimbulkan kekerasan, ketidaktertiban atau kekacauan, tidak bermoral dan ketidaksopanan. Maka menurut Plato citra Negara benar-benar rusak akibat penguasa korup. Karena demokrasi terlalu mendewakan kebebasan individu berlebihan sehingga membawa bencana bagi Negara, yakni anarki memunculkan tirani.

Dalam Encyclopedia Britannica, Socrates menyebut dalam demokrasi banyak orang tidak senang jika pendapat mereka disanggah sehingga mereka membalas dengan kekerasan. “Orang baik berjuang untuk keadilan dalam system demokrasi  akan terbunuh,” Katanya. Sebagaimana dikutip dari merdeka.com Senin, 7 April 2014 oleh Reporter Fisal Assegaf. Jadi tidak heran bahkan kita berharap keadilan baik dalam tatanah hokum dan perpolitikan di alam demokrasi.

Beda dengan Islam

Konsep hukum dalam demokrasi jelas berbeda dengan Islam. Syari’at Islam telah menjelaskan, bahwa pelaku tindakan-tindakan kriminal akan mendapat hukuman, di dunia maupun di akhirat. Karena Hukum di dalam Islam memiliki sifat Zawajir (Pencegah) dan Jawabir (Penebus Dosa). Yang ketika pelaksanaan hokum di dunia dilaksanakan maka gugurlah dosanya dan sebagai penggugur Hukuman di akhirat, akan dijatuhkan oleh Allah terhadap para pelakunya. Allah akan mengazab mereka pada hari kiamat, sebagaimana dijelaskan dalam firman-firmanNya:
“Orang-orang yang berbuat kejahatan dapat dikenal dari tanda-tandanya. Maka direnggutlah mereka dari ubun-ubun dan kaki-kaki mereka” (QS Ar Rahman: 41)

“Bagi orang yang kafir disediakan neraka jahanam” (QS Al Fathir: 36)

“Begitulah keadaan mereka, dan sesungguhnya bagi orang-orang durhaka, disediakan tempat kembali yang buruk. Yaitu neraka jahanam yang mereka masuk ke dalamnya, maka amat buruklah jahanam itu seba¬gia tempat tinggal” (QS Shaad: 55-56)

“Sungguh kami sediakan bagi orang-orang kafir, rantai-rantai/ belenggu-belenggu dan neraka yang menyala-nyala” (QS Al Insaan: 4)

Allah SWT telah menjelaskan hukaman-hukuman itu secara gamblang dalam Al Qur’an. Siksaan-siksaan itu benar-benar merupakan suatu kenya¬taan, sebab tercantum dalam ayat-ayat yang pasti sumbernya (qath’iyatuts tsubut) dan pasti penunjukan maknanya (qath’iyatud dalalah). Sebagaima¬na yang tercantum dalam firman Allah:
“Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, supaya mereka diseret ke dalam air yang panas, kemudian ia dibakar dalam api” (QS Al Mukmin: 71-72)

“Maka tidak ada seorang teman pun baginya pada hari ini disini, dan tidak ada makanan kecuali darah bercampur nanah, dan tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa” (QS Al Haaqqah: 35-37)

“Disiramkan air mendidih ke atas kepala mereka” (QS Al Hajj: 19)

“Sesungguhnya orang-orang jahat berada dalam kesesatan (di dunia) dan berada di neraka (di akhirat), yaitu pada hari dimana mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kapada mereka): ‘Rasa¬kanlah sentuhan api neraka” (QS Al Qamar: 47-48).

“(Dan golongan kiri itu) ada dalam siksaan angin yang amat panas dan air yang mendidih serta kepungan asap yang hitam” (QS Al Waqi’ah: 42-43)

“….dan kamu memakan pohon zaqqum, dan perutmu akan penuh dengannya; dan kamu akan meminum air mendidih. Kamu meminumnya seperti onta yang kehausan” (QS Al Waqi’ah: 52-55)

“(Dan) dia mendapatkan hidangan berupa air mendidih dan dilemparkan ke neraka jahim” (QS Al Waqi’ah: 93-94)

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak dan mengelupaskan kulit kepada” (QS Al Ma’aarij: 15-16)

“(Allah memerintahkan), Ambil dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian lemparkan ke dalam neraka jahim, dan belitlah dia dengan rantai sepanjang tujuh puluh hasta” (QS Al Haaqqah: 30-33)

“Setiap kulit mereka hangus, maka Kami ganti kulit mereka dengan kulit lain, supaya mereka merasakan azab” (QS An Nisaa: 52)

Demikianlah, banyak ayat-ayat yang menjelaskan azab Allah secara pasti dengan gaya bahasa yang merupakan mukjizat. Jika manusia mendengarnya, tentu mereka akan merasa ngeri disertai rasa takut. Mereka akan menganggap enteng semua siksa di dunia dan seluruh kesulitan materiil, tatkala membayangkan bagaimana pedih dan ngerinya azab di akhirat. Mereka takkan berani melanggar perintah dan larangan Allah, kecuali jika mereka melupakan kengerian azab akhirat tersebut.

Demikianlah siksaan yang akan ditimpakan di akhirat. Adapun siksaan/hukuman di dunia, Allah telah menjelaskannya dalam Al Qur’an dan Hadits, baik secara global maupun terperinci. Dan Allah SWT telah memberikan wewenang pelaksanaan hukuman tersebut kepada negara. Jadi, hukuman dalam Islam yang telah dijelaskan pelaksanaannya terhadap para penjahat di dunia ini, dilaksanakan oleh Imam (khalifah) atau wakil¬nya (hakim), yaitu dengan menerapkan sanksi-sanksi yang dilakukan oleh Daulah Islamiyah (Negara Islam) yang pernah di praktikkan Rasulullah, baik yang berupa had, Jinayat, ta’zir, Mukhalafah dan atau kafarat (denda).

Hukuman yang dijatuhkan oleh daulah di dunia ini akan menggugurkan siksaan di akhirat terhadap si pelaku kejahatan. Sehingga, hukuman uquubaat tersebut bersifat sebagai pencegah (Zawajir) dan penebus (Jawabir), yaitu akan mencegah manusia dari perbuatan dosa atau melakukan tindakan Kriminal selain sanksi moril dan malu jika tidak patuh terhadap hukum muncullah kesadaran Hukum yang selalu didambakan oleh siapapun baik penegak hukum bahkan masyarakat secara keseluruhan. Sekaligus berfungsi sebagai penebus siksaan di akhirat nanti, sehingga gugurlah siksaan itu bagi seorang muslim yang melakukannya yang bukan hanya “surat pengampunan dosa” yang secara nalar terlalu dipaksakan dan secara praktek tidak memberikan efek jera bahkan sebuah kesadaran. Begitulah Islam yang sangat Agung dan yang bisa menyelesaikan seluruh problematika manusia, Karena Islam diutus sebagai Rahmat untuk seluruh alam yang satu-satunya bisa mewujudkan keadilan bagi manusia.

Jokowi Telah Gagal…

Tidak ada komentar



Oleh:
Mahfud Abdullah (Indonesia Change)

Jokowi telah membuat janji-janji berbagai bidang pada kampanye Pilpres 2014. Dan masyarakat banyak yang menilai kegagalan dari pemerintahan Jokowi, diantaranya adalah kegagalan untuk memenuhi janji. Gagal menuju apa yang dulu ia cita-citakan yang disebut sebagai nawacita.

Jokowi yang berstatus sebagai 'petugas partai', dianggap banyak kalangan tak memiliki kemampuan memimpin pemerintahan. Selama hampir 5 tahun menjadi presiden, Jokowi sudah dianggap tidak mampu mengelola pemerintahan.

Saat ini makin banyak kebijakan ekonomi liberal yang dikeluarkan pemerintah. Misalkan Paket Kebijakan Ekonomi XVI lebih mencerminkan ideologi liberal. Kebijakan memperbolehkan perusahaan asing menguasai 100 persen investasi di 54 bidang. Termasuk terkaiit utang luar negeri, yang makin hari kian membengkak.

Privatisasi sejumlah BUMN dan pembatasan subsidi BBM merugikan masyarakat. Adapun pembatasan BBM tak lebih merupakan usaha Pemerintah untuk menuntaskan liberalisasi sektor Migas seperti yang digariskan IMF. Kebijakan itu tentu akan membuat perusahaan asing leluasa bermain di sektor hulu dan hilir (ritel/eceran).

Ini tentu sebuah ironi besar. Bagaimana mungkin rakyat membeli barang milik mereka dari pihak asing dengan harga yang ditentukan oleh mereka, justru di dalam rumah mereka sendiri? Demikian pula privatisasi sejumlah BUMN. Bila alasannya untuk menambah modal, mengapa tak diambil dari APBN atau dari penyisihan keuntungan?

Adapun kenaikan TDL menjadi problem tetap bagi rakyat, namun  sebetulnya bisa dihindari andai PLN mendapat pasokan gas. Anehnya, sebagian produksi gas yang ada, dijual ke luar negeri. Kenaikan TDL tidak akan terus menjadi ancaman seandainya PLN bisa mendapatkan pasokan gas dalam jumlah yang cukup dan terjamin. Apalagi jika diiringi dengan pengembangan sumber listrik yang terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, air, angin, gelombang laut, dsb; atau bahkan mengembangkan PLTN (Nuklir) yang meski tidak terbarukan tapi bisa menyediakan tenaga listrik dalam jumlah sangat besar.

Namun, sayang hal itu tidak bisa terjadi saat ini. Pasalnya, gas produksi dalam negeri justru lebih banyak diekspor dengan kontrak jangka panjang. Pangkalnya adalah UU yang dibuat DPR yaitu UU No 22 tahun 2001 tentang Migas yang mengamanatkan Domestic Market Obligation (DMO)–kewajiban suplai gas untuk kebutuhan dalam negeri–hanya minimal 25%. Akibatnya, gas Tangguh terus mengalir ke luar, di antaranya ke Cina dengan harga yang murah.

Btw, kebijakan ekonomi yang makin liberal itu tentu makin memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Pengangguran pun makin meningkat. Akibatnya, sebagian dari mereka pun mencari kerja ke luar negeri. Namun, bukan uang yang didapat, tetapi penderitaan dan penyiksaan, bahkan pembunuhan dialami sejumlah TKW.

Melihat fakta seperti ini, tampaknya era Jokowi gagal merealisasikan keadilan ekonomi. Serta demokrasi Neo Liberal yang di praktikan di negeri ini: bukan solusi bagi Bangsa Indonesia bahkan kaum muslimin. Justru Demokrasi Neo Liberal seperti ini akan terus merusak bahkan Demokrasi akan terus melahirkan teroris-teroris baru yang akan menteror rakyatnya sendiri, dengan berbagai krisis multidimensi yang tiada berakhir.

Tragedi NZ: Pembunuh Itu Menghiasi Senjatanya dengan Referensi Konflik-Konflik Tentara Salib…

Tidak ada komentar



Oleh:
Lalang (praktisi media)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Darah tertumpah, dunia bereaksi. Serangan terhadap kaum Muslim yang sedang menunaikan ibadah di Selandia Baru telah menyebabkan banyak perdebatan dan diskusi di seluruh dunia. Bayangkan, ketika seorang pria bersenjata, yang telah menyiapkan sebuah manifesto, pergi ke masjid dan menembaki semua yang menghadiri masjid.

Dia menembaki pria, wanita dan anak-anak di dalam selama beberapa menit dan menyiarkan langsung serangan itu dari kamera yang dipasang di kepala. Teror, kegilaan dan histeria ini menyadarkan kita, bahwa Islamophobia menjalari seluruh liinii kehidupan di barat.

Padahal Serangan-serangan ini biasanya dilakukan secara acak, tetapi mereka sering terjadi sehingga masalah-masalah yang lebih dalam yang mendorong mereka perlu ditangani lebih dari sebelumnya - tetapi selalu dikesampingkan oleh para politisi di Barat.

Pembunuh Selandia Baru menghiasi senjatanya yang berkekuatan tinggi dengan referensi konflik-konflik Tentara Salib yang sudah berabad-abad dengan Negara Khilafah. Jelas, kebencian Tentara Salib selama berabad-abad telah bangkit kembali di Barat dengan penuh amarah, meluas ke semua wilayah barat.

Makin kronis, saat dua dekade terakhir telah menyaksikan 'perang melawan teror' dan histeria anti-Muslim mencapai puncaknya. Ketika kaum Muslim menolak imperialism modern dari barat, para politisi Barat dan media menggunakan masalah terorisme dan kebutuhan untuk tetap dalam perjuangan untuk membenarkan keberlangsungan kehadiran Barat di tempat-tempat seperti Irak, Suriah dan Afghanistan.

Barat hari ini telah menggunakan sentimen anti-migran dan anti-Islam untuk membelokkan dari kegagalan ekonomi dan untuk membelokkan fakta bahwa itu adalah elit kecil yang benar-benar diwakili oleh pemerintah Barat. Akibatnya, kita menemukan sejumlah populasi besar di masyarakat Barat yang teradikalisasi didorong sentimen anti-migran dan anti-Islam, yang melihat Muslim dan imigran sebagai penyebab masalah mereka, bukannya melihat fakta bahwa pemerintah barat mewakili elit korporat kecil.

Kondisi inilah yang menjadi lahan subur bagi kelompok-kelompok sayap kanan dan rasis, yang telah melihat popularitas mereka tumbuh, dan dalam beberapa kasus seperti di AS, dunia telah melihat seorang presiden rasis sampai ke tampuk kekuasaan membawa bendera rasis dan kapitalis.


Faktor Pemimpin dan Faktor Sistem!

Tidak ada komentar



Oleh:
M. Firdaus (Analis FORKEI)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Demokrasi di Indonesia-sekalipun mendapatkan pujian dari lembaga-lembaga dunia, tidaklah memiliki wujud nyata di tengah masyarakat. Korupsi di negeri ini makin sistemik. Artinya, korupsi bukan lagi dilakukan oleh satu-dua orang, tetapi oleh banyak orang secara bersama-sama. Terungkapnya kasus Rommy menunjukkan hal itu.

yang jauh lebih berbahaya adalah saat negara justru menjadi pelaku korupsi melalui utak-atik kebijakan dan peraturan. Inilah yang disebut state corruption (korupsi negara). Skandal Bank Century dan IPO Krakatau Steel adalah contoh nyata. Kasus itu diduga telah merugikan negara triliunan rupiah. Segala usaha pemberantasan korupsi menjadi tak banyak artinya karena pelakunya adalah negara yang dilegalisasi oleh dirinya sendiri.

Selan itu, sepanjang tahun 2018, banyak tragedi yang menunjukkan dengan jelas kecacatan sistem ini. yang paling menonjol, Indonesia dengan demokrasinya telah menempatkan diri sebagai subordinat kepentingan negara kapitalis Amerika Serikat, Cina dan sekutunya. Demikian juga perang melawan teror yang diadopsi Pemerintah Indonesia yang merupakan turunan dari GWOT (global war on terrorism)-nya AS.

Wajah buruk demokrasi terkuak. Hanya karena diberi label ‘Perang Melawan Terorisme’, sistem demokrasi kemudian membiarkan adanya penculikan, penahanan paksa dan rahasia serta penyiksaan. Korbannya semuanya Muslim. Semua itu legal hanya karena alasan demi kepentingan keamanan nasional. Sistem ini telah membuang hak asasi manusia dan prinsip-prinsip keadilan hukum. Sistem demokrasi telah menunjukkan jatidirinya yang asli: menindas rakyat.

Sistem ini pun meniscayakan perselibatan pihak penguasa dengan pengusaha. Pengusaha berkepentingan untuk mendapatkan dukungan kekuasaan demi usahanya. Sebaliknya, penguasa memerlukan dukungan (modal) pengusaha untuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya. Walhasil, demokrasi hanyalah ‘kuda tunggangan’ bagi kedua kelompok ini, sementara rakyat hanya dijadikan obyek eksploitasi kepentingan mereka. Wajar jika banyak keputusan, kebijakan, UU atau peraturan yang dihasilkan melalui proses demokrasi nyata-nyata lebih berpihak kepada mereka ketimbang kepada rakyat. Inilah demokrasi-sebuah sistem yang cacat dan mengabaikan rakyat, yang tak layak diadopsi oleh umat Islam.

Ada dua faktor utama di balik berbagai persoalan yang timbul, khususnya di sepanjang tahun ini: sistem yang bobrok (yakni sistem Kapitalisme-sekular, termasuk demokrasi di dalamnya) dan pemimpin (penguasa/wakil rakyat) yang tak amanah. Karena itu, bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan di atas, kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah.

Sistem yang baik hanya datang dari Zat Yang Mahabaik, Allah SWT. Itulah syariah Islam yang diterapkan dalam sistem Khilafah. Adapun pemimpin yang amanah adalah yang mau sungguh-sungguh menjalankan sistem yang baik itu itu. Di sinilah sesungguhnya pentingnya seruan ” Menuju Indonesia Lebih Baik dengan Penerapan Syariah”.

Ketika Kebencian Tentara Salib Selama Berabad-Abad Telah Bangkit Kembali di Barat dengan Penuh Amarah

Tidak ada komentar



Oleh:
Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Aksi teror yang dilakukan teroris Tarrant terjadi di dua masjid di Kota Christchurch pada 15 Maret. Yakni Masjid Al Noor dan Masjid Linwood. Dia menggunakan senapan serbu AR-15 dalam aksinya. Tarrant merekam perbuatannya dan disiarkan langsung melalui akun Facebook-nya. Ia berhasil ditangkap setelah menyerang Masjid Al Noor, ketika hendak pergi menggunakan mobil.

Menurut hasil penyelidikan Kepolisian Selandia Baru, pelaku teror penembakan pada 15 Maret lalu, Brenton Tarrant (28) ternyata mempunyai tiga sasaran saat beraksi di Kota Christchurch. Beruntung polisi berhasil menangkapnya sehingga jumlah korban tidak bertambah. Kabar itu disampaikan oleh Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush. Menurut dia, Tarrant yang berasal dari Australia memang sudah mempersiapkan serangan itu sejak tiga bulan sebelumnya.

Bereaksi atas kejadian ini, seluruh muslim yang peduli tentumarah oleh pembantaian mengerikan puluhan Muslim yang menghadiri sholat Jum'ah di dua masjid di Selandia Baru, sehingga masalah tersebut dengan cepat mendominasi diskusi mereka di media sosial, tempat-tempat umum dan Masajid.

Jelas, kebencian Tentara Salib selama berabad-abad telah bangkit kembali di Barat dengan penuh amarah, meluas ke semua wilayahnya. Memang, pembunuh Selandia Baru menghiasi senjatanya yang berkekuatan tinggi dengan referensi konflik-konflik Tentara Salib yang sudah berabad-abad dengan Negara Khilafah (Khilafah) yang semakin maju. Kebencian Tentara Salib inilah yang membuat Amerika Serikat mengumumkan perang salibnya melawan Irak, Afghanistan, dan perlawanan terhadap pendudukan Al-Aqsa dan Kashmir.

Kebencian Tentara Salib inilah yang telah memicu serangan berulang pada Muslim dan Islam di seluruh Barat. Kebencian Tentara Salib inilah yang memicu desakan Barat agar para penguasa Pakistan mendukung kelanjutan pendudukan Afghanistan melalui bertindak sebagai fasilitator sewaan untuk perundingan dan untuk menghancurkan semua dukungan bagi perlawanan di Kashmir yang diduduki. Dan kebencian Tentara Salib inilah yang sepenuhnya diabaikan dalam kecaman para pemimpin di dunia Islam, yang menjadikan kecaman mereka tanpa bobot, relevansi atau kepentingan.

Menghadapi berbagai teror di dunia muslim ini, yang ada hanyalah satu dari dua tenda: tenda keimanan yang di dalamnya tidak ada kemunafikan dan tenda kemunafikan yang di dalamnya tidak ada keimanan. Maka jangan beri kesempatan pada kaum kafir penjajah dan antek-anteknya, untuk berhasil mengokohkan sekulerisme. Jika itu terjadi, Anda akan kembali ke rezim yang Anda telah keluar darinya.

Rezim dengan wajah yang dirias untuk mempercantiknya, dengan antek baru pengganti antek yang lama… Pada saat itu Anda akan kembali mengalami kezaliman dan penderitaan yang telah diperingatkan kepada Anda. Darah-darah Anda akan mengadu kepada Penciptanya. Pengorbanan-pengorbanan Anda akan memperkarakan Anda kepada Zat yang di sisi-Nya tidak ada seorang pun yang dizalimi. Maka Anda akan merugi dan menyesal di mana ketika itu penyesalan tidak ada gunanya. Anda akan menjadi seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya menjadi tercerai berai kembali.

Tragedi di Masjid NZ: AS Telah Menyalakan Api yang Telah Membakar Histeria di Banyak Negara

Tidak ada komentar



Oleh:
Ainun Dawaun Nufus (pengamat sosial politik)

BERGERAKNEWS | Meja Redaksi - Dunia muslim berduka. Serangan biadab penembakan di Selandia Baru hari Jumat (15/3) telah meninggalkan puluhan korban tewas, luka-luka, hingga yang masih belum diketahui keberadaannya. Tragedi yang mengerikan ini menargetkan Muslim. Sementara peristiwa masih mentah, apa yang diketahui sejauh ini menunjuk ke penargetan populasi Muslim yang disengaja oleh satu atau lebih supremasi sayap kanan anti-Muslim.

Histeria anti-Muslim bukanlah fenomena baru di Selandia Baru. Global War on Terrorisme (GWOT) adalah kampanye yang secara khusus dan eksklusif menempatkan Islam dan Muslim sebagai ancaman eksistensial. Motif inilah untuk menaklukkan ancaman ‘Islam’ ini yang menjadi dasar bagi petualangan militer barat di dunia Muslim.

Adapun penyakit xenophobia dan histeria anti-Muslim yang diperjuangkan di bawah GWOT telah meradikalisasi populasi lokal sehingga tragedi pembantaian kaum muslim ini ‘seperti’ tak terhindarkan.Perlu diingat bahwa histeria Islamophobia deikembangkan barat dalam banyak bidang. Manifestasinya yang paling kejam mengalir melalui negara dalam bentuk petualangan militer di luar negeri dan tindakan-tindakan hukuman di dalam negeri. Di lain waktu warga sipil diminta untuk memainkan peran mereka untuk terdidik membenci Islam.

Kejadian pembantaian ini menjadi tidak terhindarkan, namun dalam semua ini sebagai efek dari perang melawan teror dan perang melawan Islam yang diprakarsai semata-mata oleh negara. Negara-negara Barat termasuk di Timur seperti China telah menyalakan api Islamophobia yang telah membakar histeria dan sekarang dunia tembakar begitu mengerikan. Sedangkan pemerintah Selandia Baru memiliki darah di tangannya. Telah lalai dari melepas tanggung jawab.

dan AS sebagai Negara utama yang merayakan Islamophobia saat ini. Amerika Serikat tidak akan pernah mempedulikan kecaman atas tindakan brutal agresi militer mereka. Karena mereka sudah menjadikan diri mereka sendiri sebagai hukum, hakim sekaligus eksekutornya. AS yang menentukan siapa teroris dan bagaimana cara menghukumnya. Bukan pengadilan internasional apalagi suara dunia Islam.

AS telah menghabiskan dana triliunan dollar untuk menangkap dan menyiksa ratusan orang tanpa pengadilan, dan membunuhi ribuan warga sipil, membuat ketidakstabilan di berbagai wilayah di dunia, dan mendorong sektarianisme yang semuanya dilakukan dengan alasan untuk memberangus teroris. Mereka juga tidak takut untuk mengeluarkan uang lebih banyak lagi dan membunuh lebih banyak lagi untuk menunjukkan kepongahan mereka. AS telah, masih dan akan terus melanjutkan operasi militer brutal degan dalih war on terror. Maka AS sendirilah yang sebenarnya melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan demokrasi dan perang melawan terorisme.

Sehingga kaum muslimin tidak boleh tertipu oleh omong kosong perang melawan terorisme dan penegakkan keadilan yang dilontarkan AS dan pemimpinnya Barack ‘pembual’ Trump. Baginya, sebenarnya yang paling penting bukanlah keadilan bagi rakyat AS apalagi kedamaian dunia. Trump hanya mementingkan popularitasnya yang terus merosot karena ketidakbecusannya mengurus negerinya. Maka ia tak peduli berapapun biaya yang dikeluarkan dan berapa ribu muslim yang akan terbunuh.